Digitalisasi setiap interaksi sosial membuat masyarakat kita cenderung tidak lagi menyukai buku² bacaan, kita lebih suka membaca status di sosial media, stalking oranglain
Intensitas interaksi sosial semakin jarang terjadi, akibatnya kita cenderung kurang peka dengan kondisi sosial di sekitar
Dahulu orang dengan suka membaca, akan mudah baginya memahami dengan pola pikir dari hasil bacaan yg dia konsumsi setiap hari nya, sehingga membentuk literasi keilmuan berpikir yang baik
Namun kini kita sering temui mahasiswa berangkat ke kampus, dengan alat make up, cermin, dan gadget menjadi suatu keharusan dibawa didalam tas
Budaya literasi kita semakin terkikis dengan kondisi sosial masyarakat kita yg cenderung kurang suka bersosialisasi, maka tidak asing lagi jika timbul berbagai persoalan sosial yg bersumber dari sosial media
Tentu ini kondisi yg sangat mengkhawatirkan generasi masa depan, dimana mereka harus diberi tuntunan bukan drama² sosial media yg setiap waktu menimbulkan polemik, sehingga lupa dengan budaya ketimuran kita dengan berbudi luhur, beretika yg baik
Inilah tugas kita menjaga budaya Indonesia dengan segala kearifan lokalnya, boleh saja kita bermain sosial media, namun intensitas waktunya tidak perlu berlebihan, kita seimbangi dengan membaca buku² bacaan yg mampu mengasah keilmuan kita, mampu membuka pola pikir kita
Boleh saja kita melakukan aktifitas sosial media, namun perlu diperhatikan bagaimana menjaga nilai² agama dan norma sosial kita
Kita harus menjaga identitas budaya kita baik di sosial media maupun di dunia nyata
@zuhalqolbi
(Bumiayu, 2019)
____

Comments
Post a Comment