Malam semakin gelap, hanya lampu-lampu depan rumah warga yang
menyala, cahaya rembulan pun tertutup awan karena mendung, jalanan di desa
sepi, selingan suara jangkrik berkolaborasi dengan bunyi gemuruh langit yang
akan turun hujan.
Jam Casio yang melingkar di pergelangan tangan kiri ku menunjukkan
pukul 20.00 WIB, aku baru saja selesai berlatih beladiri Thifan Po Khan
di kediaman kakekku di desa seberang. Aku langkahkan kaki dengan cepat melalui
perkebunan dan pemukiman warga. Sambil melafadzkan tasbih, tahmid, dan
istighfar, aku tetap tegap lurus memandang ke depan dengan langkah yang
sigap.
Sekitar 15 menit aku berjalan, tibalah di rumah. Ayah, ibu dan
adikku telah menanti kedatanganku untuk makan malam bersama. Aku sangat
bersyukur memiliki keluarga yang begitu setia dan sederhana menjalani kehidupan
yang Allah berikan.
“Assalamualaikum,”
Ucapku sambil membuka pintu rumah yang sengaja tidak dikunci,“Waalaikumsalam,”
jawab adik ku yang sedang belajar di ruang tamu.“Kak, ayo makan... udah
ditunggu ayah dan ibu di ruang tengah,” ketus adikku yang bernama Rere sambil
mengulurkan tangan kanannya untuk salaman dan mencium punggung tangan ku.“Iya
dek, terima kasih ya... kamu juga sedang menunggu kakak kan? Ayo kita makan bersama ayah dan ibu.”
Balas ku sembari mengusap kepalanya yang dibungkus jilbab.
Aku langsung menemui ayah dan ibu yang sedang asyik mengobrol di
atas kursi reot yang sudah berusia
puluhan tahun. Kuciumi satu persatu tangan mereka berdua.
“Wah fahri sudah jago beladirinya nih,” ujar ayah tiba-tiba.“Belum
seberapa kok yah, kalo dibanding dengan beladirinya ayah, masih jago ayah lah.”
Aku mengelak dengan halus.
“Ayo makan malam sekarang, ibu sudah masakkan sayur jantung pisang
kesukaan Fahri sama Rere tuh,” sahut ibu.“Iya bu... ayo, Fahri sudah lapar nih,
tadi cukup keras juga latihannya.” Aku meringis sambil memegang perut yang
mulai keroncongan.
Malam itu aku, Rere, Ayah, dan Ibu makan malam dengan selingan suara jangkrik di luar rumah.
Disertai gelak tawa obrolan ayah yang menceritakan kisahnya dahulu ketika masih
muda digodai oleh perempuan-perempuan di sekolahnya. Sampai akhirnya ayah
berkenalan dengan ibu pada saat mereka bertemu dalam pengajian rutin bulanan di
kantor kecamatan. Saat itu ibu menjadi pengantar minuman untuk orang-orang yang
mengikuti pengajian, termasuk ayah. Ketika itu ibu tersenyum pada ayah saat
memberikan segelas teh hangat, dan ayah membalas dengan angukan kepala. Dari
situ ayah semakin sering memperhatikan ibu setiap kali pengajian. Hingga
akhirnya ayah melamar Ibu setelah 3 bulan sejak Ibu memberikan Teh hangat
dengan senyuman.
Rere mulai menguap, begitu pula dengan Ibu. Ayah bercerita panjang
lebar tentang masa mudanya dahulu. Ketika Rere dan Ibu pamit untuk tidur
terlebih dahulu, tiba-tiba ayah berbisik padaku,“Fahri, kamu tahu tidak apa
yang terjadi di Palestina sekarang?”“Aku tidak tahu yah, memang kenapa ayah?
Kok tiba-tiba tanya begitu?” Selidikku. Aku penasaran dengan pertanyaan yang
Ayah berikan.“Ayah dahulu pernah pergi ke Palestina sebagai relawan kesehatan
membantu saudara-saudara se Muslim kita di sana dari ancaman tentara Israel.
Sampai saat ini warga Palestina masih dalam kungkungan penjajah Israel,” jelas
Ayah.“Wah, ngeri sekali yah, apa anak seumuran aku bisa sekolah yah?” Tanya ku
polos.
“Nak, sangat sulit bagi mereka untuk mendapatkan pendidikan yang
layak di tengah kedzaliman yang mereka hadapi, banyak anak-anak kecil yang
sudah tidak ber-Bapak dan ber-Ibu.” Ayah meneteskan Air matanya.“Sejak dahulu
Ayah berkeinginan memiliki Pasukan Khusus untuk membantu saudara-saudara kita
di sana.” Ayah terisak.
“Ayah berharap kamu mempunyai keinginan seperti Ayah, makanya sejak
kecil sampai sekarang kamu kelas 2 SMA Ayah suruh untuk latihan beladiri terus,
supaya kamu bisa menggunakan keahlian beladiri kamu untuk membantu
saudara-saudara mu yang terdzalimi,” tegas Ayah.
“Iya Ayah, Fahri mengerti Kok. InsyaAllah Fahri
akan berusaha mencapai harapan Ayah,” jawab ku dengan
tegas pula.
“Ya sudah ayo
istirahat, sudah malam nih. Besok kamu harus berangkat ke sekolah,” ujar Ayah
sembari bangkit dari tempat duduknya.
Aku langsung masuk ke kamar, sebelumnya aku pergi dahulu ke kamar
mandi untuk mengambil air wudhu untuk shalat dua rakaat sebelum tidur.
Pagi
menyapa diriku, dengan alunan burung gereja bersahutan di atas pohon mangga
depan rumahku, sinar matahari mengisyaratkan kehangatan vitamin D pada tubuh.
Pukul 06.00 WIB, aku harus berangkat ke sekolah yang jaraknya sekitar 1 kilometer.
Rumahku yang berada di kaki gunung membuatku harus berjuang berjalan kaki menuruni
lereng untuk sampai di tempat aku menimba ilmu.
Sebelum
berangkat, aku pamit dahulu kepada Ayah dan Ibu, kucium setiap punggung tangan
kanan mereka, aku pun sambil mengantarkan Rere ke sekolah dasar yang kebetulan
berdekatan dengan sekolahku. Ayah memberiku uang saku untuk berdua dengan Rere
dan amplop yang berisi surat. “Nak hati-hati ya, jaga adikmu.. Ayah harus bergegas ke atas gunung
mencari buah-buahan untuk dijual di pasar. Kamu yang rajin belajarnya, jangan
lupa sholatnya ya nak... ini Ayah kasih surat, jangan dibaca sekarang, nanti
saja ketika kamu pulang sekolah.” Tugasku adalah mengantarkan Rere
terlebih dahulu ke sekolahnya, setelah itu aku fokus belajar di sekolah.
Batinku
Sesampainya
di sekolah, aku langsung bergabung dengan beberapa teman dekat
ku, ada Adi, Reno, Jati, dan Wahyu. Kami berlima selalu kumpul bersama di sekolah, meski kita berbeda kelas, tapi kita selalu terlihat
kompak. Terutama dalam hal belajar kelompok. Kita selalu meluangkan waktu
istirahat untuk belajar dan diskusi bersama di Perpustakaan sekolah.
“Assalamualaikum,
hai semua apa kabar?” Sapaku yang datang ke sekolah paling akhir dari mereka
semua.“Waalaikumsalam, baik kok.. kamu sendiri apa kabar Fahri?” Timpal Jati,
anak yang paling gemuk di antara kami berlima.“Kelihatannya lagi sedih nih, ada
masalah apa?” sambung Adi, “Alhamdulillah aku baik kok... nggak apa-apa, Cuma
agak kurang enak badan aja hari ini,” jawabku.
Aku
berbohong pada teman-teman, padahal aku sedang bingung dengan sikap Ayah yang
aneh sejak malam tadi.
“Fahri
sini nak, ikut bapak ke ruangan guru,” tiba-tiba Pak Hari mengagetkan obrolan
kami, dan mengajak ku ke kantor guru.“Iya pak,” sahut ku sambil menunduk
bingung, kenapa aku bisa di panggil ke kantor, dalam perjalanan menuju kantor,
aku berpikir keras, mengingat apa saja yang aku perbuat, sehingga aku di panggi
ke ruang guru.
“Fahri, barusan
bapak dapat kabar bahwa di Lereng Gunung Desa kamu tinggal tertimpa longsor.
Semua warga di sana di kabarkan tertimbun tanah yang cukup dalam.” singkat Pak
Hari. “Menurut laporan humas desa sana yang Bapak terima, ternyata Ayah dan Ibu kamu belum ditemukan sampai saat ini,” sambung Pak Hari.
Aku kaget, “Hah? Astaghfirullah...” pikiranku langsung terbang membayangkan
Ayah dan Ibu di rumah.
“Ya sudah Ri, kamu saya
antar ke sana sekarang
yuk.” Ajak Pak Hari. “Iya Pak. Fahri mengambil tas dulu di kelas.” Sahutku.
Dalam
perjalanan ke rumah, aku tidak kuat menahan air mata yang sudah mebanjiri
mukaku. Pak Hari hanya terdiam fokus menjalankan mobilnya. Sesekali beliau
mengeluarkan kata-kata nasehat untuk ku.“Yang tabah Fahri, Bapak turut berduka,
kamu doakan saja mereka mudah-mudahan bisa dapat ditemukan secepatnya.”
Hingga
tiba di desa tempat tinggalku, aku terpana melihat bangunan rata dengan tanah,
hanya terlihat beberapa puing-puing bangunan yang tidak terkubur oleh tanah.
Dilangit terlihat beberapa burung gagak mengitari area kejadian longsor
tersebut. Sejumlah relawan bencana sedang mengais-ngais tanah untuk mencari
sebagian warga yang masih belum ditemukan, termasuk Ayah dan Ibu. Sebagian lain
relawan menggotong beberapa korban meninggal dunia kedalam mobil ambulance. Ada
pula beberapa orang histeris menangis di pinggiran lokasi tanah longsor, aku
hanya menduga mereka adalah para anggota keluarga dari korban yang berduka.
Pak Hari
langsung pamit pulang kembali ke sekolah, sambil memberi saya amplop yang mirip
dengan pemberian Ayah pagi tadi. Tanpa berpikir panjang aku langsung memeluk
Pak Hari,“Pak terimakasih banyak atas bantuannya selama ini, maaf kalau Fahri
sering membuat Bapak kecewa di sekolah.” Ujar ku tersedu-sedu.“Iya nak,
sama-sama, kamu harus tegar mengahadapi cobaan yang Allah berikan.” Sahut Pak Hari
sembari melepaskan pelukan ku. Dan langsung pergi meninggalkanku sendiri.
Dengan
tekad yang kuat aku pun ikut turun bersama para relawan untuk mencari sejumlah
korban yang belum ditemukan dan masih tertimbun. Sembari mengusap air mata yang masih membekas sejak
aku berada di mobil tadi.
Selang 30
menit kemudian, aku belum juga menemukan Ayah dan Ibu. Lantas aku mencoba untuk
istirahat terlebih dahulu, namun ketika aku berjalan ke pinggiran tiba-tiba aku
terjerembab tanah yang tidak begitu padat, tanpa disengaja aku merasakan sedang
menginjak tangan manusia. Saat aku tarik tangan itu.
Terasa sangat berat sekali sehingga beberapa relawan membantu ku
menarik tangan itu, sampai akhirnya sosok itu berhasil ditarik dan ternyata
tangan kirinya juga berpegangan erat dengan tangan kanan korban lain juga.
Aku
mencoba membersihkan wajah kedua sosok itu karena aku tidak yakin ciri-ciri
fisik ke dua mayat ini mirip dengan kedua orang tuaku, karena penasaran, aku
bersihkan wajah mereka.
“Hah? Ayah! Ibu!.” Aku menangis histeris menyaksikan dua sosok yang ada
di depan ku ini adalah kedua orangtuaku. Dunia seakan runtuh menimpa dada
ku. aku hampir tidak percaya secepat ini mereka pergi meninggalkan aku dan
Rere.@zuhalqolbi
(Purwokerto, 2015)

Comments
Post a Comment