Skip to main content

Part 1 - PESAN AYAH (Cerpen)

Malam semakin gelap, hanya lampu-lampu depan rumah warga yang menyala, cahaya rembulan pun tertutup awan karena mendung, jalanan di desa sepi, selingan suara jangkrik berkolaborasi dengan bunyi gemuruh langit yang akan turun hujan.
Jam Casio yang melingkar di pergelangan tangan kiri ku menunjukkan pukul 20.00 WIB, aku baru saja selesai berlatih beladiri Thifan Po Khan di kediaman kakekku di desa seberang. Aku langkahkan kaki dengan cepat melalui perkebunan dan pemukiman warga. Sambil melafadzkan tasbih, tahmid, dan istighfar, aku tetap tegap lurus memandang ke depan dengan langkah yang sigap.
Sekitar 15 menit aku berjalan, tibalah di rumah. Ayah, ibu dan adikku telah menanti kedatanganku untuk makan malam bersama. Aku sangat bersyukur memiliki keluarga yang begitu setia dan sederhana menjalani kehidupan yang Allah berikan.
                    “Assalamualaikum,” Ucapku sambil membuka pintu rumah yang sengaja tidak dikunci,“Waalaikumsalam,” jawab adik ku yang sedang belajar di ruang tamu.“Kak, ayo makan... udah ditunggu ayah dan ibu di ruang tengah,” ketus adikku yang bernama Rere sambil mengulurkan tangan kanannya untuk salaman dan mencium punggung tangan ku.“Iya dek, terima kasih ya... kamu juga sedang menunggu kakak kan? Ayo kita makan bersama ayah dan ibu.” Balas ku sembari mengusap kepalanya yang dibungkus jilbab.
Aku langsung menemui ayah dan ibu yang sedang asyik mengobrol di atas  kursi reot yang sudah berusia puluhan tahun. Kuciumi satu persatu tangan mereka berdua.
“Wah fahri sudah jago beladirinya nih,” ujar ayah tiba-tiba.“Belum seberapa kok yah, kalo dibanding dengan beladirinya ayah, masih jago ayah lah.” Aku mengelak dengan halus.
“Ayo makan malam sekarang, ibu sudah masakkan sayur jantung pisang kesukaan Fahri sama Rere tuh,” sahut ibu.“Iya bu... ayo, Fahri sudah lapar nih, tadi cukup keras juga latihannya.” Aku meringis sambil memegang perut yang mulai keroncongan.
Malam itu aku, Rere, Ayah, dan Ibu makan malam dengan selingan suara jangkrik di luar rumah. Disertai gelak tawa obrolan ayah yang menceritakan kisahnya dahulu ketika masih muda digodai oleh perempuan-perempuan di sekolahnya. Sampai akhirnya ayah berkenalan dengan ibu pada saat mereka bertemu dalam pengajian rutin bulanan di kantor kecamatan. Saat itu ibu menjadi pengantar minuman untuk orang-orang yang mengikuti pengajian, termasuk ayah. Ketika itu ibu tersenyum pada ayah saat memberikan segelas teh hangat, dan ayah membalas dengan angukan kepala. Dari situ ayah semakin sering memperhatikan ibu setiap kali pengajian. Hingga akhirnya ayah melamar Ibu setelah 3 bulan sejak Ibu memberikan Teh hangat dengan senyuman.
Rere mulai menguap, begitu pula dengan Ibu. Ayah bercerita panjang lebar tentang masa mudanya dahulu. Ketika Rere dan Ibu pamit untuk tidur terlebih dahulu, tiba-tiba ayah berbisik padaku,“Fahri, kamu tahu tidak apa yang terjadi di Palestina sekarang?”“Aku tidak tahu yah, memang kenapa ayah? Kok tiba-tiba tanya begitu?” Selidikku. Aku penasaran dengan pertanyaan yang Ayah berikan.“Ayah dahulu pernah pergi ke Palestina sebagai relawan kesehatan membantu saudara-saudara se Muslim kita di sana dari ancaman tentara Israel. Sampai saat ini warga Palestina masih dalam kungkungan penjajah Israel,” jelas Ayah.“Wah, ngeri sekali yah, apa anak seumuran aku bisa sekolah yah?” Tanya ku polos.
“Nak, sangat sulit bagi mereka untuk mendapatkan pendidikan yang layak di tengah kedzaliman yang mereka hadapi, banyak anak-anak kecil yang sudah tidak ber-Bapak dan ber-Ibu.” Ayah meneteskan Air matanya.Sejak dahulu Ayah berkeinginan memiliki Pasukan Khusus untuk membantu saudara-saudara kita di sana. Ayah terisak.
“Ayah berharap kamu mempunyai keinginan seperti Ayah, makanya sejak kecil sampai sekarang kamu kelas 2 SMA Ayah suruh untuk latihan beladiri terus, supaya kamu bisa menggunakan keahlian beladiri kamu untuk membantu saudara-saudara mu yang terdzalimi,” tegas Ayah.
“Iya Ayah, Fahri mengerti Kok. InsyaAllah Fahri akan berusaha mencapai harapan Ayah,jawab ku dengan tegas pula.
Ya sudah ayo istirahat, sudah malam nih. Besok kamu harus berangkat ke sekolah, ujar Ayah sembari bangkit dari tempat duduknya.
Aku langsung masuk ke kamar, sebelumnya aku pergi dahulu ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu untuk shalat dua rakaat sebelum tidur.

                    Pagi menyapa diriku, dengan alunan burung gereja bersahutan di atas pohon mangga depan rumahku, sinar matahari mengisyaratkan kehangatan vitamin D pada tubuh. Pukul 06.00 WIB, aku harus berangkat ke sekolah yang jaraknya sekitar 1 kilometer. Rumahku yang berada di kaki gunung membuatku harus berjuang berjalan kaki menuruni lereng untuk sampai di tempat aku menimba ilmu.
                    Sebelum berangkat, aku pamit dahulu kepada Ayah dan Ibu, kucium setiap punggung tangan kanan mereka, aku pun sambil mengantarkan Rere ke sekolah dasar yang kebetulan berdekatan dengan sekolahku. Ayah memberiku uang saku untuk berdua dengan Rere dan amplop yang berisi surat. Nak hati-hati ya, jaga adikmu.. Ayah harus bergegas ke atas gunung mencari buah-buahan untuk dijual di pasar. Kamu yang rajin belajarnya, jangan lupa sholatnya ya nak... ini Ayah kasih surat, jangan dibaca sekarang, nanti saja ketika kamu pulang sekolah.” Tugasku adalah mengantarkan Rere terlebih dahulu ke sekolahnya, setelah itu aku fokus belajar di sekolah. Batinku
                    Sesampainya di sekolah, aku langsung bergabung dengan beberapa teman dekat ku, ada Adi, Reno, Jati, dan Wahyu. Kami berlima selalu kumpul bersama di sekolah, meski kita berbeda kelas, tapi kita selalu terlihat kompak. Terutama dalam hal belajar kelompok. Kita selalu meluangkan waktu istirahat untuk belajar dan diskusi bersama di Perpustakaan sekolah.
                    Assalamualaikum, hai semua apa kabar? Sapaku yang datang ke sekolah paling akhir dari mereka semua.“Waalaikumsalam, baik kok.. kamu sendiri apa kabar Fahri?” Timpal Jati, anak yang paling gemuk di antara kami berlima.“Kelihatannya lagi sedih nih, ada masalah apa?” sambung Adi, “Alhamdulillah aku baik kok... nggak apa-apa, Cuma agak kurang enak badan aja hari ini,” jawabku.
                    Aku berbohong pada teman-teman, padahal aku sedang bingung dengan sikap Ayah yang aneh sejak malam tadi.
                    “Fahri sini nak, ikut bapak ke ruangan guru,” tiba-tiba Pak Hari mengagetkan obrolan kami, dan mengajak ku ke kantor guru.“Iya pak,” sahut ku sambil menunduk bingung, kenapa aku bisa di panggil ke kantor, dalam perjalanan menuju kantor, aku berpikir keras, mengingat apa saja yang aku perbuat, sehingga aku di panggi ke ruang guru.
                    Fahri, barusan bapak dapat kabar bahwa di Lereng Gunung Desa kamu tinggal tertimpa longsor. Semua warga di sana di kabarkan tertimbun tanah yang cukup dalam.singkat Pak Hari. Menurut laporan humas desa sana yang Bapak terima, ternyata Ayah dan Ibu kamu belum ditemukan sampai saat ini,” sambung Pak Hari.
Aku kaget, Hah? Astaghfirullah... pikiranku langsung terbang membayangkan Ayah dan Ibu di rumah.
                    Ya sudah Ri, kamu saya antar ke sana sekarang yuk. Ajak Pak Hari. Iya Pak. Fahri mengambil tas dulu di kelas. Sahutku.
                    Dalam perjalanan ke rumah, aku tidak kuat menahan air mata yang sudah mebanjiri mukaku. Pak Hari hanya terdiam fokus menjalankan mobilnya. Sesekali beliau mengeluarkan kata-kata nasehat untuk ku.“Yang tabah Fahri, Bapak turut berduka, kamu doakan saja mereka mudah-mudahan bisa dapat ditemukan secepatnya.”
                    Hingga tiba di desa tempat tinggalku, aku terpana melihat bangunan rata dengan tanah, hanya terlihat beberapa puing-puing bangunan yang tidak terkubur oleh tanah. Dilangit terlihat beberapa burung gagak mengitari area kejadian longsor tersebut. Sejumlah relawan bencana sedang mengais-ngais tanah untuk mencari sebagian warga yang masih belum ditemukan, termasuk Ayah dan Ibu. Sebagian lain relawan menggotong beberapa korban meninggal dunia kedalam mobil ambulance. Ada pula beberapa orang histeris menangis di pinggiran lokasi tanah longsor, aku hanya menduga mereka adalah para anggota keluarga dari korban yang berduka.
                    Pak Hari langsung pamit pulang kembali ke sekolah, sambil memberi saya amplop yang mirip dengan pemberian Ayah pagi tadi. Tanpa berpikir panjang aku langsung memeluk Pak Hari,“Pak terimakasih banyak atas bantuannya selama ini, maaf kalau Fahri sering membuat Bapak kecewa di sekolah.” Ujar ku tersedu-sedu.Iya nak, sama-sama, kamu harus tegar mengahadapi cobaan yang Allah berikan. Sahut Pak Hari sembari melepaskan pelukan ku. Dan langsung pergi meninggalkanku sendiri.
                    Dengan tekad yang kuat aku pun ikut turun bersama para relawan untuk mencari sejumlah korban yang belum ditemukan dan masih tertimbun. Sembari  mengusap air mata yang masih membekas sejak aku berada di mobil tadi.
                    Selang 30 menit kemudian, aku belum juga menemukan Ayah dan Ibu. Lantas aku mencoba untuk istirahat terlebih dahulu, namun ketika aku berjalan ke pinggiran tiba-tiba aku terjerembab tanah yang tidak begitu padat, tanpa disengaja aku merasakan sedang menginjak tangan manusia. Saat aku tarik tangan itu.
Terasa sangat berat sekali sehingga beberapa relawan membantu ku menarik tangan itu, sampai akhirnya sosok itu berhasil ditarik dan ternyata tangan kirinya juga berpegangan erat dengan tangan kanan korban lain juga.
                    Aku mencoba membersihkan wajah kedua sosok itu karena aku tidak yakin ciri-ciri fisik ke dua mayat ini mirip dengan kedua orang tuaku, karena penasaran, aku bersihkan wajah mereka.
            Hah? Ayah! Ibu!.” Aku menangis histeris menyaksikan dua sosok yang ada di depan ku ini adalah kedua orangtuaku. Dunia seakan runtuh menimpa dada ku. aku hampir tidak percaya secepat ini mereka pergi meninggalkan aku dan Rere.

@zuhalqolbi

(Purwokerto, 2015)

Comments

Popular posts from this blog

Part 14 - ATOMIC HABITS (Opini)

Kebiasaan-kebiasaan yang berulang setiap saat akan berdampak besar pada 'siapa' kita kelak. Siapapun kita, profesi apapun, usia berapapun kita saat ini, latar belakang bagaimanapun kita, adalah proses panjang akibat kebiasaan yang terus menerus berulang hingga menjadi 'apa' kita hari ini 'You are what you do!' Kamu adalah apa yg kamu lakukan, kalo kita bermalas-malasan ya kita adalah seorang pemalas, kalau kita membaca buku ya kita adalah pembaca buku, kalau kita menulis ya kita adalah penulis, kalau kita tidak melakukan apapun ya kita tidak akan jadi apapun Proses panjang pasti terjadi dan harus siap menghadapi segala resiko dan masalah yang ada didepan mata. Belajar lah dari kesalahan, habiskan kegagalan kita selagi masih ada kesempatan Lakukan hal-hal sederhana setiap hari, misalkan merapihkan tempat tidur di pagi hari, beribadah, membersihkan rumah, membaca buku, menyapa dan tersenyum dg orang sekitar, sedekah atau membantu org yg membutuhkan dan banyak hal ...

Part 16 - SEBUAH KISAH

Ada sebuah kisah di negeri yang nun jauh disana, kisah tentang kasih sayang Pemilik Alam Semesta terhadap penduduknya. Kisah yang menceritakan betapa dahsyat nya Allah Swt menyayangi hamba-hambaNya dengan musibah yg bisa menjadi teguran dan bisa menjadi ujian. Kisah yang menarik bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Pernah ada seorang ulama lembut nan mulia di negeri tersebut yang mengajarkan ikhlas di saat Allah memberikan musibah. Hal yg pertama yang di ucapkan adl 'Alhamdulillah'. Percaya dan menerima dg ikhlas bahwa itu takdir Allah Swt dan sbg hamba tidak ada yg bisa menolaknya. Lalu bagi scientist dan pemerhati lingkungan mengatakan bahwa perbuatan manusia yang merusak keseimbangan alam lah yang menjadikan musibah itu datang bertubi-tubi. Hutan di tebang, dan di bakar, persoalan sampah, perluasan lahan, kerusakan alam dimana-mana. Itu menjadi alasan kuat pandangan scientist, dan pemerhati lingkungan memberikan sudut pandang tersebut. Ternyata dalam Al-Qur'an Surat...

Part 15 - Share Your Happiness

Ada kebahagiaan yang begitu dalam pada saat kamu berbagi bukan? Letak kebahagiaan ada pada kebaikan memberi yang terbaik dari yang Tuhan titipkan Pernah merasakan demikian? Bahkan dalam konsep agama, memberi atau bersedekah adalah amalan penolak bala (keburukan), amalan yang dapat memperlipat gandakan rezeki, dan tentunya juga amalan kebaikan yang akan menolong pemiliknya di padang mahsyar kelak Namun, kita juga harus tahu bahwa secara scientist banyak ilmuwan yang meyakini perilaku peduli dengan orang lain dapat mengeluarkan endorfin pada otak sehingga akan memberikan sebuah perasaan yang positif atau bisa disebut dengan 'helper's high' Selain itu, kebaikan itu ternyata menular lho! Dengan berbagi kepada sesama, kebaikan tidak akan berhenti begitu saja, justru ada ripple effect untuk menjangkau kebaikan yang lebih besar Dan ada yang sangat penting dengan berbagi kebahagiaan akan menumbuhkan rasa syukur atas apa yang sudah Tuhan berikan, so apapun bentuk kebaikan nya. yuk b...